Senin, 26 Oktober 2015

CONTOH METODE ILMIAH PENYAKIT SKABIES



ILMU KEALAMAN DASAR
CONTOH METODE ILMIAH

PENYAKIT KULIT SKABIES


A.   LATAR BELAKANG MASALAH
Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan dan kesehatan. Seperti pada orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri, pada orang sakit atau tantangan fisik memerlukan bantuan perawat untuk melakukan praktik hygiene (kesehatan) yang rutin. Selain itu beragam faktor pribadi dan sosial mempengaruhi praktik hygiene. Praktik hygiene sama dengan peningkatan kesehatan. Kulit merupakan garis tubuh pertama dari pertahanan melawan infeksi. Sikap seseorang melakukan kesehatan perorangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah faktor pengetahuan. Pengetahuan tentang pentingnya kesehatan dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. Kendati demikian pengetahuan saja tidak cukup. Seseorang juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri.
Perilaku untuk membersihkan diri sangat penting dalam upaya mencegah kesakitan dan mencegah terjangkitnya penyakit terutama penyakit yang berhubungan dengan kurangnya kebersihan diri. Kurangnya kebersihan diri bisa menimbulkan penyakit, misalnya skabies. Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh gangguan dari kutu atau tungau yang disebut Sarcoptes Scabiei. Umumnya, penyakit ini menyerang masyarakat yang tinggal berkelompok dalam satu tempat secara bersama, khususnya siswa penghuni asrama. Penyakit ini menular dari hewan ke manusia (zoonosis), manusia ke hewan, bahkan dari manusia ke manusia. Cara penularannya adalah lewat kontak langsung maupun tak langsung antara penderita dengan orang lain, melalui kontak kulit, baju, handuk dan bahan - bahan lain yang berhubungan langsung dengan si penderita. Julukan skabies sebagai penyakitnya anak asrama atau pesantren, alasannya karena anak asrama dan pesantren suka bertukar, pinjam - meminjam pakaian, handuk, sarung bahkan bantal, guling dan kasurnya kepada sesamanya, sehingga disinilah kunci akrabnya penyakit ini dengan dunia keasramaan dan pesantren.
Penyakit kulit skabies menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam pengobatannya harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh pada semua orang dan lingkungan pada komunitas yang terserang skabies, karena apabila dilakukan pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit skabies ini. Skabies merupakan penyakit kulit yang terabaikan, dianggap biasa saja dan lumrah terjadi pada masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia. Padahal tingkat prevalensi skabies ditinjau dari wilayah, usia maupun jenis kelamin relatif ada hampir di seluruh di dunia dengan tingkat yang bervariasi. Penelitian untuk mengobati penyakit skabies telah banyak dilakukan oleh peneliti, namun masih menyisakan masalah resistensi dan efek samping obat. Selain itu adanya infeksi sekunder setelah infestasi skabies menimbulkan masalah yang lebih parah pada kulit bahkan menyebabkan kematian. Pencegahan penyakit skabies dipandang lebih efektif dalam mengendalikan tingkat prelevansi skabies yang bersifat sporadik, endemik dan epidemik. Pencegahan skabies melalui pendidikan masyarakat menjadi satu tantangan bagi akademisi untuk menekan prevalensi skabies.


B.     RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian, yaitu :
1.      Apakah terdapat pengaruh hygiene perorangan (personal hygiene) terhadap angka kejadian skabies di pondok pesantren ?
2.      Bagaimana cara pencegahan penyakit skabies di lingkungan pondok pesantren ?

C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengaruh hygiene perorangan terhadap munculnya penyakit skabies di lingkungan pesantren.
2.      Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit kulit skabies.

D.    MANFAAT

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai pengaruh hygiene perorangan terhadap kejadian skabies di pondok pesantren,dan memberi masukan kepada santri, pengurus pondok pesantren, maupun masyarakat agar dapat meningkatkan kebersihan diri untuk mencegah terjadinya skabies.

E.     HIPOTESIS
Personal hygiene atau hygiene perorangan yang buruk dapat mengakibatkan kejadian penyakit skabies. Personal hygiene atau kebersihan pribadi merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis. Personal hygiene ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya budaya, nilai sosial individu atau keluarga, pengetahuan dan presepsi mengenai personal hygiene. Personal hygiene sangat penting dipelihara, jika hal ini tidak diperhatikan maka akan muncul berbagai dampak, terutama penyakit kulit seperti skabies dan personal hygiene yang buruk akan meningkatkan kejadian skabies. Penularan skabies dapat terjadi melalui kontak langsung dengan penderita skabies atau kontak dengan benda - benda yang terkontaminasi oleh skabies sehingga bisa menimbulkan endemik skabies. Selain mengganggu kesehatan, personal hygiene yang kurang terjaga juga menyebabkan dampak psikososial dimana seseorang menjadi tidak nyaman dan tidak percaya diri di lingkungan sosialnya sehingga akan mempengaruhi perkembangan psikisnya. Pencegahan skabies pada manusia dapat dilakukan dengan cara menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah penggunaan barang-barang penderita secara bersama-sama. Kebersihan tubuh dan lingkungan termasuk sanitasi serta pola hidup yang sehat akan mempercepat kesembuhan dan memutus siklus hidup kutu atau tungau.

F.     PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian mengetahui pengaruh personal hygiene terhadap perkembangan penyakit scabies, diperlukan pengumpulan data dari setiap penghuni pondok pesantren. Pada penelitian ini akan diambil sampel dari pondok pesantren. Data yang dikumpulkan merupakan data primer, merupakan data yang diperoleh dari hasil kuesioner yang diisi oleh santri dan pemeriksaan langsung terhadap sampel yang dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium. Setelah itu dilakukan penghitungan (scoring) terhadap kuesioner untuk menilai status hygiene perorangan (skala ordinal) berdasarkan sistem skor menurut Warijan. Dikatakan status hygiene baik bila 80% - 100% dari total skor (27-30), status hygiene cukup bila 65% - <80% dari total skor (20-26), dan status higiene kurang bila <65% dari total skor (<20). Dan kejadian infestasi Sarcoptes scabiei, (skala nominal) dibedakan menjadi Positif (terinfestasi) dan Negatif (tidak terinfestasi). Setelah data diperoleh, lalu data dianalisis dengan uji chi-square dengan menggunakan program Statisical Program for Social Science (SPSS 15) for  Windows.







Deskripsi Data

Tabel 1. Distribusi status hygiene santri di pondok pesantren.

Status Hygiene
Jumlah
%
Kurang
Cukup
Baik
42
55
3
42
55
3
Jumlah
100
100

Tabel 2. Kejadian infestasi S.scabiei pada santri pondok pesantren.
Infestasi S.scabiei
Jumlah
%
Positif
Negatif
43
57
43
57
Jumlah
100
100

Tabel 3. Persentase hubungan antara status higiene perorangan dengan infestasi S.scabiei pada santri pondok pesantren.

Status Hygiene
perorangan
Infestasi S.scabiei Positif
Infestasi S.scabiei Negatif
Jumlah
%
Jumlah
%
Kurang
Cukup
Baik
29
14
0
29
14
0
13
41
3
13
41
3
Jumlah
43
43
57
57



Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa santri yang tidak terinfestasi S.scabiei (57%) lebih banyak daripada santri yang positif terinfestasi (43%). Karena status hygiene perorang merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian infestasi S.scabiei, maka penelitian selanjutnya adalah untuk mengetahui hubungan antara status hygiene perorang dengan infestasi S.scabiei yang terlihat pada tabel 3. Dari tabel tersebut didapatkan 29 santri (29 %) dengan status hygiene perorang kurang, positif terinfestasi S.scabiei, 14 santri (14 %) dengan status hygiene perorang cukup positif terinfestasi S.scabiei, dan 0 santri (0 %) dengan status hygiene perorang baik positif terinfestasi S. scabei. Sedangkan 13 santri (13 %) dengan status hygiene perorang kurang tidak terinfestasi S. scabiei, 41 santri(41 %) dengan status hygiene perorang cukup tidak terinfestasi S. scabiei, dan 3 santri (3 %) dengan status hygiene perorang baik tidak terinfestasi S. scabiei. Tabel – tabel di atas menunjukkan bahwa infestasi S.scabiei lebih banyak dijumpai pada santri dengan status hygiene kurang dibandingkan dengan status hygiene cukup atau baik. Berdasarkan data tersebut, pada uji hipotesis dengan uji chi-square dijumpai hubungan yang bermakna (p=0,000) antara status hygiene perorangan dengan infestasi S.scabiei pada santri di pondok pesantren.

G.    PENGUJIAN HIPOTESIS DAN PEMBAHASAN
Skabies adalah suatu infestasi pada kulit manusia yang disebabkan oleh penetrasi parasit obligat yaitu S. scabiei var hominis ke dalam epidermis. Kutu dapat hidup di luar kulit hanya 2-3 hari pada suhu kamar 21C dengan kelembaban relatif 40 - 80 %. Kutu betina berukuran 0,3-0,4 mikron, kutu jantan membuahi kutu betina kemudian mati, lalu kutu betina ini akan menggali lubang ke dalam epidermis lalu membuat terowongan di dalam stratum korneum, dan meletakkan telur - telurnya di terowongan tersebut. Sarcoptes scabiei hidup di dalam terowongan tersebut selama 30 hari. Diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terkena skabies. Prevalensi meningkat di daerah perkotaan dan padat penduduk. DI indonesia prevalensi skabies masih cukup tinggi. Menurut Departemen Kesehatan RI 2008 prevalensi skabies di Indonesia sebesar 5,60 - 12,95 % dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering.
Penularan skabies berkaitan erat dengan sosio ekonomi yang rendah, hygiene perorang yang jelek, lingkungan yang tidak saniter, perilaku yang tidak mendukung kesehatan serta kepadatan penduduk. Pada pengumpulan data penelitian didapatkan 20 responden dengan kriteria eksklusi. Dari 100 santri yang diperiksa 43 % (43 santri) terinfestasi S.scabiei dan 57 % (57 santri) tidak terinfestasi S.scabiei. Status hygiene perorang yang kurang memiliki angka kejadian tertinggi. dan yang terendah pada status hygiene perorang yang baik. Dari hasil uji hipotesis dengan uji chi-square dijumpai adanya hubungan yang bermakna antara status hygiene perorangan dengan kejadian infestasi S.scabiei pada santri pondok pesantren (p=0,000). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Teguh Wahyu Sardjono dan kawan - kawan (1998) yang menyatakan bahwa hygiene perorangan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap angka kejadian skabies. Tingginya angka kejadian skabies di kalangan santri disebabkan oleh karena sebagian besar santri memiliki perilaku kebersihan yang kurang, jadi semakin rendah status hygiene santri semakin besar kemungkinan santri menderita skabies, karena status hygiene perorangan santri mencerminkan perilaku hidup santri sehari - hari.

H.    SOLUSI DAN PENCEGAHAN

Pendidikan sebagai solusi pencegahan penyakit skabies berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan. Pengetahuan tentang pencegahan, cara penularan penyakit, serta upaya pengobatan jika telah terinfeksi skabies berpengaruh terhadap perilaku hidup sehat yang menjaga kebersihan diri sendiri maupun lingkungan yang selanjutnya diharapkan mampu menekan bahkan meniadakan prevalensi skabies. Domain perilaku pada hakikatnya perilaku proaktif memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatan.
Penyebaran informasi dapat dilakukan melalui penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat oleh petugas kesehatan dengan dukungan penuh dari tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan masyarakat setempat. Metode yang dapat dilakukan antara lain ceramah, diskusi mapun peer education. Peer education menurut (Purnomo et al. 2013) lebih berpengaruh terhadap sikap seseorang dalam tindakan pencegahan penyakit HIV/AIDS dibandingkan metode ceramah. Hal ini efektif jika tutornya adalah panutan bagi teman - teman sebayanya. Hal ini disebabkan pada remaja di sekolah menengah dan perguruan tinggi, teman sebaya mempunyai pengaruh yang sangat tinggi dalam pembentukan sikap. Mereka akan cenderung memilih sikap yang sama dengan anggota teman sebayanya, agar mereka tidak dianggap asing oleh kelompoknya. Media yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan informasi untuk meningkatkan pengetahuan tentang skabies yang tujuan akhirnya adalah pencegahan penyakit skabies yaitu buku saku, pamflet atau selebaran. Buku saku lebih efektif karena muatan informasi yang diberikan lebih banyak, dapat dibaca kapan saja dan dimana saja karena bentuknya kecil.  
Untuk pengobatannya, dapat dilakukan dengan mengoleskan salep khusus untuk penderita scabies atau ramuan - ramuan alami seperti serbuk lada. Yang terpenting dalam pengobatan skabies, adalah seluruh orang yang tinggal di tempat yang sama dengan penderita juga harus diobati. Semua pakaian, handuk, bantal, kasur, harus dijemur dibawah sinar matahari. Tujuannya agar tungau mati karena sinar matahari. Pakaian dicuci dengan menggunakan cairan karbol. Dan bila semua telah dilakukan, yang paling penting adalah mengubah cara hidup sehari - hari dengan tidak saling meminjamkan pakaian dan barang pribadi lainnya ke orang lain. Dengan begitu, skabies pasti akan musnah ditelan bumi, dan anak - anak pesantren pun akan tersenyum bangga, bebas dari penyakit yang selama berabad - abad identik dengan kehidupannya.


I.       KESIMPULAN

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang diujikan adalah benar. Personal hygiene atau kebersihan pribadi seseorang mempengaruhi munculnya penyakit kulit skabies. Personal hygiene yang kurang terjaga dapat meningkatkan terjadinya penyakit skabies. Selain itu, kebersihan lingkungan juga mempengaruhi perkembangan kutu atau tungau yang menjadi faktor penyebab penyakit skabies. Oleh karena itu, khususnya para santri dan mahasiswa, serta masyrakat pada umumnya diharapkan dan diwajibkan untuk dapat menjaga kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan, demi menciptakan masyarakat yang bersih, sehat, dan sejahtera.


J.      SARAN
Saran saya untuk menanggulangi penyebaran penyakit skabies adalah sebagai berikut.
1.      Perlu dilaksanakan penyuluhan kesehatan tentang skabies untuk meningkatkan pengetahuan santri maupun pengurus pondok pesantren terhadap skabies.
2.      Perlunya peningkatan hygiene perorangan pada santri maupun pengurus pondok pesantren agar terhindar dari skabies.
3.      Perlu dilakukan pemeriksaan berkala terhadap santri untuk mencegah terjadinya skabies.




K.    DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar