ILMU
KEALAMAN DASAR
CONTOH
METODE ILMIAH
PENYAKIT
KULIT SKABIES
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Pemeliharaan hygiene
perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan dan kesehatan.
Seperti pada orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri, pada
orang sakit atau tantangan fisik memerlukan bantuan perawat untuk melakukan
praktik hygiene (kesehatan) yang
rutin. Selain itu beragam faktor pribadi dan sosial mempengaruhi praktik hygiene. Praktik hygiene sama dengan peningkatan kesehatan. Kulit merupakan garis
tubuh pertama dari pertahanan melawan infeksi. Sikap seseorang melakukan
kesehatan perorangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah
faktor pengetahuan. Pengetahuan tentang pentingnya kesehatan dan implikasinya
bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene.
Kendati
demikian pengetahuan saja tidak cukup. Seseorang juga harus termotivasi untuk
memelihara perawatan diri.
Perilaku untuk membersihkan diri sangat penting dalam upaya mencegah
kesakitan dan mencegah terjangkitnya penyakit terutama penyakit yang
berhubungan dengan kurangnya kebersihan diri. Kurangnya kebersihan diri bisa
menimbulkan penyakit, misalnya skabies. Scabies adalah penyakit kulit yang
disebabkan oleh gangguan dari kutu atau tungau yang disebut Sarcoptes Scabiei.
Umumnya, penyakit ini menyerang
masyarakat yang tinggal berkelompok dalam satu tempat secara bersama, khususnya
siswa penghuni asrama. Penyakit ini menular dari hewan ke manusia (zoonosis),
manusia ke hewan, bahkan dari manusia ke manusia. Cara penularannya adalah
lewat kontak langsung maupun tak langsung antara penderita dengan orang lain,
melalui kontak kulit, baju, handuk dan bahan - bahan lain yang berhubungan
langsung dengan si penderita. Julukan skabies sebagai penyakitnya anak asrama
atau pesantren, alasannya karena anak asrama dan pesantren suka bertukar,
pinjam - meminjam pakaian, handuk, sarung bahkan bantal, guling dan kasurnya
kepada sesamanya, sehingga disinilah kunci akrabnya penyakit ini dengan dunia
keasramaan dan pesantren.
Penyakit kulit skabies
menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam
pengobatannya harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh pada semua orang
dan lingkungan pada komunitas yang terserang skabies, karena apabila dilakukan
pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit skabies
ini. Skabies merupakan penyakit kulit yang terabaikan, dianggap biasa saja dan
lumrah terjadi pada masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia. Padahal tingkat
prevalensi skabies ditinjau dari wilayah, usia maupun jenis kelamin relatif ada
hampir di seluruh di dunia dengan tingkat yang bervariasi. Penelitian untuk
mengobati penyakit skabies telah banyak dilakukan oleh peneliti, namun masih
menyisakan masalah resistensi dan efek samping obat. Selain itu adanya infeksi
sekunder setelah infestasi skabies menimbulkan masalah yang lebih parah pada
kulit bahkan menyebabkan kematian. Pencegahan penyakit skabies dipandang lebih
efektif dalam mengendalikan tingkat prelevansi skabies yang bersifat sporadik,
endemik dan epidemik. Pencegahan skabies melalui pendidikan masyarakat menjadi
satu tantangan bagi akademisi untuk menekan prevalensi skabies.
Dari latar belakang tersebut di atas maka dapat
dirumuskan masalah penelitian, yaitu :
1. Apakah
terdapat pengaruh hygiene perorangan (personal hygiene) terhadap angka
kejadian skabies di pondok pesantren ?
2. Bagaimana
cara pencegahan penyakit skabies di lingkungan pondok pesantren ?
C.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui pengaruh hygiene
perorangan terhadap munculnya penyakit skabies di lingkungan pesantren.
2. Untuk
mengetahui cara pencegahan penyakit kulit skabies.
D.
MANFAAT
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
untuk memberikan informasi mengenai pengaruh hygiene perorangan terhadap kejadian skabies di pondok
pesantren,dan memberi masukan kepada santri, pengurus pondok pesantren, maupun
masyarakat agar dapat meningkatkan kebersihan diri untuk mencegah terjadinya
skabies.
E.
HIPOTESIS
Personal hygiene
atau hygiene perorangan yang buruk
dapat mengakibatkan kejadian penyakit skabies. Personal
hygiene atau kebersihan pribadi merupakan
perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik
secara fisik maupun psikologis. Personal hygiene ini dipengaruhi oleh
berbagai faktor, diantaranya budaya, nilai sosial individu atau keluarga,
pengetahuan dan presepsi mengenai personal hygiene. Personal hygiene sangat
penting dipelihara, jika hal ini tidak diperhatikan maka akan muncul berbagai
dampak, terutama penyakit kulit seperti skabies dan personal hygiene yang
buruk akan meningkatkan kejadian skabies. Penularan skabies dapat terjadi
melalui kontak langsung dengan penderita skabies atau kontak dengan benda - benda
yang terkontaminasi oleh skabies sehingga bisa menimbulkan endemik skabies.
Selain mengganggu kesehatan, personal hygiene yang kurang terjaga juga
menyebabkan dampak psikososial dimana seseorang menjadi tidak nyaman dan tidak
percaya diri di lingkungan sosialnya sehingga akan mempengaruhi perkembangan
psikisnya. Pencegahan skabies pada manusia dapat dilakukan dengan cara
menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah penggunaan
barang-barang penderita secara bersama-sama. Kebersihan tubuh dan lingkungan
termasuk sanitasi serta pola hidup yang sehat akan mempercepat kesembuhan dan
memutus siklus hidup kutu atau tungau.
F.
PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian mengetahui pengaruh personal hygiene terhadap perkembangan penyakit
scabies, diperlukan pengumpulan data dari setiap penghuni pondok pesantren.
Pada penelitian ini akan diambil sampel dari pondok pesantren. Data yang
dikumpulkan merupakan data primer, merupakan data yang diperoleh dari hasil kuesioner
yang diisi oleh santri dan pemeriksaan langsung terhadap sampel yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium. Setelah itu dilakukan penghitungan
(scoring) terhadap kuesioner untuk menilai status hygiene perorangan (skala ordinal) berdasarkan sistem skor menurut Warijan. Dikatakan status hygiene baik bila 80% - 100% dari total
skor (27-30), status hygiene cukup
bila 65% - <80% dari total skor (20-26), dan status higiene kurang bila <65% dari total skor (<20). Dan kejadian
infestasi Sarcoptes scabiei, (skala nominal) dibedakan menjadi Positif
(terinfestasi) dan Negatif (tidak terinfestasi). Setelah data diperoleh, lalu
data dianalisis dengan uji chi-square dengan menggunakan program Statisical
Program for Social Science (SPSS 15)
for Windows.
Deskripsi Data
Tabel
1. Distribusi
status hygiene santri di pondok
pesantren.
|
Status Hygiene
|
Jumlah
|
%
|
|
Kurang
Cukup
Baik
|
42
55
3
|
42
55
3
|
|
Jumlah
|
100
|
100
|
Tabel 2. Kejadian
infestasi S.scabiei pada santri pondok pesantren.
|
Infestasi S.scabiei
|
Jumlah
|
%
|
|
Positif
Negatif
|
43
57
|
43
57
|
|
Jumlah
|
100
|
100
|
Tabel 3. Persentase hubungan
antara status higiene perorangan
dengan infestasi S.scabiei pada santri pondok pesantren.
|
Status
Hygiene
perorangan
|
Infestasi
S.scabiei Positif
|
Infestasi
S.scabiei Negatif
|
||
|
Jumlah
|
%
|
Jumlah
|
%
|
|
|
Kurang
Cukup
Baik
|
29
14
0
|
29
14
0
|
13
41
3
|
13
41
3
|
|
Jumlah
|
43
|
43
|
57
|
57
|
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa santri yang tidak
terinfestasi S.scabiei (57%) lebih banyak daripada santri yang positif
terinfestasi (43%). Karena status hygiene
perorang merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian infestasi S.scabiei,
maka penelitian selanjutnya adalah untuk mengetahui hubungan antara
status hygiene perorang dengan
infestasi S.scabiei yang terlihat pada tabel 3. Dari tabel
tersebut didapatkan 29 santri (29 %) dengan status hygiene perorang kurang, positif terinfestasi S.scabiei, 14
santri (14 %) dengan status hygiene
perorang cukup positif terinfestasi S.scabiei, dan 0 santri (0 %)
dengan status hygiene perorang baik
positif terinfestasi S. scabei. Sedangkan 13 santri (13 %)
dengan status hygiene perorang kurang
tidak terinfestasi S. scabiei, 41 santri(41 %) dengan status hygiene perorang cukup tidak terinfestasi
S. scabiei, dan 3 santri (3 %) dengan status hygiene perorang baik tidak terinfestasi S. scabiei. Tabel
– tabel di atas menunjukkan bahwa infestasi S.scabiei lebih banyak
dijumpai pada santri dengan status hygiene
kurang dibandingkan dengan status hygiene
cukup atau baik. Berdasarkan data tersebut, pada uji hipotesis dengan uji chi-square
dijumpai hubungan yang bermakna (p=0,000) antara status hygiene perorangan dengan infestasi S.scabiei
pada santri di pondok pesantren.
G.
PENGUJIAN
HIPOTESIS DAN PEMBAHASAN
Skabies adalah suatu infestasi pada kulit manusia
yang disebabkan oleh penetrasi parasit obligat yaitu S. scabiei var hominis ke
dalam epidermis. Kutu dapat hidup di luar kulit hanya 2-3 hari pada suhu kamar
21⁰C
dengan kelembaban relatif 40 - 80 %. Kutu betina berukuran 0,3-0,4 mikron, kutu
jantan membuahi kutu betina kemudian mati, lalu kutu betina ini akan menggali
lubang ke dalam epidermis lalu membuat terowongan di dalam stratum korneum, dan
meletakkan telur - telurnya di terowongan tersebut. Sarcoptes scabiei hidup
di dalam terowongan tersebut selama 30 hari. Diperkirakan
lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terkena skabies. Prevalensi
meningkat di daerah perkotaan dan padat penduduk. DI indonesia prevalensi
skabies masih cukup tinggi. Menurut Departemen Kesehatan RI 2008 prevalensi
skabies di Indonesia sebesar 5,60 - 12,95 % dan skabies menduduki urutan ketiga
dari 12 penyakit kulit tersering.
Penularan skabies berkaitan erat dengan sosio
ekonomi yang rendah, hygiene perorang
yang jelek, lingkungan yang tidak saniter, perilaku yang tidak mendukung
kesehatan serta kepadatan penduduk. Pada pengumpulan data penelitian didapatkan
20 responden dengan kriteria eksklusi. Dari 100 santri yang diperiksa 43 % (43
santri) terinfestasi S.scabiei dan 57 % (57 santri) tidak terinfestasi S.scabiei.
Status hygiene perorang yang
kurang memiliki angka kejadian tertinggi. dan yang terendah pada status hygiene perorang yang baik. Dari hasil
uji hipotesis dengan uji chi-square dijumpai adanya hubungan yang
bermakna antara status hygiene
perorangan dengan kejadian infestasi S.scabiei pada santri pondok
pesantren (p=0,000). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Teguh Wahyu
Sardjono dan kawan - kawan (1998) yang menyatakan bahwa hygiene perorangan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap angka kejadian skabies. Tingginya angka kejadian skabies di kalangan
santri disebabkan oleh karena sebagian besar santri memiliki perilaku
kebersihan yang kurang, jadi semakin rendah status hygiene santri semakin besar kemungkinan santri menderita skabies,
karena status hygiene perorangan
santri mencerminkan perilaku hidup santri sehari - hari.
H.
SOLUSI
DAN PENCEGAHAN
Pendidikan sebagai solusi pencegahan
penyakit skabies berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan. Pengetahuan tentang
pencegahan, cara penularan penyakit, serta upaya pengobatan jika telah
terinfeksi skabies berpengaruh terhadap perilaku hidup sehat yang menjaga
kebersihan diri sendiri maupun lingkungan yang selanjutnya diharapkan mampu
menekan bahkan meniadakan prevalensi skabies. Domain perilaku pada hakikatnya
perilaku proaktif memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko
terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta
berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatan.
Penyebaran informasi dapat dilakukan
melalui penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat oleh petugas kesehatan
dengan dukungan penuh dari tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan tingkat
pendidikan masyarakat setempat. Metode yang dapat dilakukan antara lain
ceramah, diskusi mapun peer education. Peer education menurut
(Purnomo et al. 2013) lebih berpengaruh terhadap sikap seseorang dalam
tindakan pencegahan penyakit HIV/AIDS dibandingkan metode ceramah. Hal ini
efektif jika tutornya adalah panutan bagi teman - teman sebayanya. Hal ini
disebabkan pada remaja di sekolah menengah dan perguruan tinggi, teman sebaya
mempunyai pengaruh yang sangat tinggi dalam pembentukan sikap. Mereka akan
cenderung memilih sikap yang sama dengan anggota teman sebayanya, agar mereka
tidak dianggap asing oleh kelompoknya. Media yang dapat digunakan untuk
menyebarluaskan informasi untuk meningkatkan pengetahuan tentang skabies yang
tujuan akhirnya adalah pencegahan penyakit skabies yaitu buku saku, pamflet
atau selebaran. Buku saku lebih efektif karena muatan informasi yang diberikan
lebih banyak, dapat dibaca kapan saja dan dimana saja karena bentuknya kecil.
Untuk pengobatannya, dapat dilakukan dengan
mengoleskan salep khusus untuk penderita scabies
atau ramuan - ramuan alami seperti serbuk lada. Yang
terpenting dalam pengobatan skabies, adalah seluruh orang yang tinggal di tempat
yang sama dengan penderita juga harus diobati. Semua pakaian, handuk, bantal,
kasur, harus dijemur dibawah sinar matahari. Tujuannya agar tungau mati karena
sinar matahari. Pakaian dicuci dengan menggunakan cairan karbol. Dan bila semua
telah dilakukan, yang paling penting adalah mengubah cara hidup sehari - hari
dengan tidak saling meminjamkan pakaian dan barang pribadi lainnya ke orang
lain. Dengan begitu, skabies pasti akan musnah ditelan bumi, dan anak - anak pesantren
pun akan tersenyum bangga, bebas dari penyakit yang selama berabad - abad
identik dengan kehidupannya.
I.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang
diujikan adalah benar. Personal hygiene atau kebersihan pribadi
seseorang mempengaruhi munculnya penyakit kulit skabies. Personal
hygiene yang kurang terjaga dapat meningkatkan terjadinya
penyakit skabies. Selain itu, kebersihan lingkungan juga mempengaruhi
perkembangan kutu atau tungau yang menjadi faktor penyebab penyakit skabies.
Oleh karena itu, khususnya para santri dan mahasiswa, serta masyrakat pada
umumnya diharapkan dan diwajibkan untuk dapat menjaga kebersihan pribadi dan
kebersihan lingkungan, demi menciptakan masyarakat yang bersih, sehat, dan
sejahtera.
J.
SARAN
Saran saya
untuk menanggulangi penyebaran penyakit skabies adalah sebagai berikut.
1. Perlu
dilaksanakan penyuluhan kesehatan tentang skabies untuk meningkatkan pengetahuan
santri maupun pengurus pondok pesantren terhadap skabies.
2. Perlunya
peningkatan hygiene perorangan pada
santri maupun pengurus pondok pesantren agar terhindar dari skabies.
3. Perlu
dilakukan pemeriksaan berkala terhadap santri untuk mencegah terjadinya skabies.
K.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar