Kalau
bicara mengenai dunia hebat, apa yang terlintas dalam benak kalian? Pasti ada
yang berpikir dunia yang modern, dunia pengetahuan, dan dunia yang penuh dengan
teknologi yang hebat dan maju. Kita sering berpikir dengan semakin majunya peradaban
manusia, tentu dunia menjadi semakin hebat. Contohnya, globalisasi dunia yang
meluas dan universal. Semua kegiatan di seluruh negara, dapat diketahui oleh
negara lain berkat adanya teknologi dan ilmu pengetahuan. Kehidupan manusia pun
menjadi lebih baik dengan semakin meningkatnya taraf hidup dan perekonomian
bangsa. Namun, apakah dunia yang hebat hanya sebatas itu?
Coba
kita selidiki sebagian kehidupan pinggiran di dunia ini. Dunia dimana tidak ada
kehidupan modern dan masih bisa dibilang primitif. Apakah kita peduli pada
mereka? Masyarakat disana masih berkekurangan dan tidak mengetahui apa itu
teknologi. Mengapa kita tidak merangkul mereka? Jawabannya, karena dunia yang
kita sebut “hebat” ini adalah dunia yang kejam. Dunia yang hanya memandang kemampuan
seseorang dengan sebelah mata. Dunia ini hanya melihat kepada orang – orang
yang menguasai dunia itu sendiri saja. Misalnya, para penguasa dan
konglongmerat. Kita tidak tahu, pekerjaan “kotor” mereka, yang kita tahu mereka
adalah orang – orang berada yang menguasai dunia ini.
Kehidupan
seperti ini marak terjadi di setiap negara. Contohnya, dalam bidang pendidikan.
Orang yang bisa dibilang “bodoh” karena malas, bisa mendapatkan nilai tinggi
hanya karena uang semata. Sedangkan, orang yang benar – benar cerdas dirugikan
karena tidak berdaya dengan permainan uang yang merajalela. Sungguh, menjadi
sebuah dilema bagi suatu negara. Perih hati ini melihat begitu banyak
ketidakadilan yang terjadi. Hanya karena nasib beruntung seseorang yang
dilahirkan sebagai anak orang kaya, lalu bagaimana dengan yang miskin? Apakah
kita hanya bisa menutup mata, dan tetap berjalan lurus ke depan tanpa
memikirkan mereka dan berkata “Emang gue pikirin?”
Ingat,
apa yang kita lakukan pada orang lain, begitu pula yang orang lain akan perbuat
pada kita. Hidup ini berputar kawan, seperti bumi yang berputar pada porosnya.
Kita tidak akan selalu berada di atas dan menikmati setiap kemewahan yang ada.
Karena apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Bila kita tidak peduli
dan hidup semena – mena, sesuai dengan kemauan kita saja, maka kita pun
nantinya cepat atau lambat akan menerima ganjarannya. Sama seperti uang tadi,
kekuasaan pun mempengaruhi kehidupan seseorang. Dengan kuasa, seseorang dapat
melakukan segalanya, ia dapat memerintah segala sesuatu seenak jidatnya, tanpa
memikirkan keadaan orang lain. Ia tidak peduli apakah orang itu sedang dalam
kesusahan atau tidak sanggup menuruti perintahnya, pokoknya Kerjakan Saja!!
Kejam
bukan ? Dunia ini tidaklah begitu hebat teman, apa yang kita anggap baik,
dianggap jahat oleh dunia. Sedangkan apa yang kita anggap buruk, dianggap baik
oleh dunia. Jadi, kekuasaan dan uang lah yang bertahta di atas dunia ini. Kita
sebagai kaum awam yang menengah, yang hanya dapat melakukan perintah, hanya dapat
pasrah demi bertahan hidup. Lalu, bagaimna sebenarnya dunia yang hebat itu?
Berbagai
variasi pendapat dilontarkan untuk menggambarkan bagaimana dunia yang hebat
sesungguhnya. Namun, menurut saya pribadi, dunia yang hebat itu adalah dunia
yang didasarkan pada KASIH. Mengapa demikian? Karena dengan kasih, kita dapat
memberi. Dengan kasih kita dapat mengampuni, kita sabar dalam bertindak, dan
kita mengingat akan orang lain. Bila setiap warga dunia menerapkan kasih kepada
sesamanya, maka peperangan akan reda bahkan sirna, dan kehidupan menjadi damai
dan tenteram. Bukankah kehidupan yang damai yang kita inginkan? Sekarang, di
Timur Tengah banyak terjadi perang agama, yang memakan ribuan korban? Mengapa
hal itu bisa terjadi? Tentunya, karena merebut yang namanya KEKUASAAN. Benar,
kuasa ini begitu hebat untuk memimpin dunia. Namun, inilah yang menjadi
penyebab kehancuran dunia. Hari demi hari, manusia semakin jahat dan bejat,
semakin tidak masuk akal bahkan gila. Keinginan berbuat jahat semakin besar
karena berbagai macam alasan. Oleh karena itu, hanyalah kasih yang dapat
menghilangkan itu semua. Bagaimana kita menerapkan kasih itu?
Kita
tahu kasih itu adalah rasa sayang dan peduli kita terhadap orang lain. Namun,
jujur, sangat sulit untuk menerapkannya. Seringkali kita tidak peduli akan
orang lain, dan hanya mementingkan diri sendiri. Kita juga sering meremehkan
orang lain bahkan menindas mereka. Jangan menjadi duri dalam daging, teman.
Cobalah untuk peduli, dan bantulah orang lain, karena demikian pulalah yang
orang lain akan lakukan padamu. Sikap jujur juga diperlukan dalam kasih
mengasihi. Bila kalian hanya mengasihi seseorang dengan maksud tersembunyi,
maka apa gunanya kasih itu? Kasih itu lemah lembut dan tanpa pamrih, seperti
Tuhan yang mengasihi kita dengan tulus dan setia menyertai kehidupan kita.
Jadi, kasihilah sesamamu manusia seperti Tuhanmu yang di sorga juga
mengasihimu.
Kembali,
pada dunia yang hebat. Dunia ini tidak cukup hanya menjadi hebat, tetapi juga
dunia yang indah. Dunia penuh perdamaian dan suka cita. Dunia yang tidak ada diskriminasi
dan pilih kasih. Dunia yang adil dengan kasih didalamnya. Seperti cerita
berikut, yang mengambarkan bagaimana seseorang yang merendahkan orang lain ;
Dodi
adalah seorang siswa SD kelas IV. Dodi adalah anak seorang petani miskin yang
hanya memiliki beberapa petak sawah. Suatu hari, Dodi mendapatkan tugas dari
gurunya untuk menuliskan cita – cita dan keinginannya. Teman – teman Dodi amat
semangat dan mulai menuliskan keinginan mereka. Namun, Dodi bingung dan gelisah.
Ia tidak tahu apa yang harus ia tulis. Satu jam berlalu, dan Dodi masih belum
menuliskan apapun. Sampai 15 menit sebelum tugas dikumpulkan, Dodi memantapkan
hatinya, dan menuliskan cita – cita dan keinginannya pada secarik kertas dan
mengumpulkannya kepada gurunya.
Keesokan
harinya, Guru Dodi yang bernama Pak Hilwan, membagikan hasil tugas kemarin dan
berkata semua cita – cita dan keinginan siswa – siswinya bagus, kecuali satu
orang yaitu Dodi. Wah, tentu saja Dodi bingung dan berkata “Pak, mengapa keinginan
saya tidak bagus?”
“Keinginan dan cita – cita kamu itu tidak masuk akal
Dodi!”,tegas Pak Hilwan.
“Mengapa
Pak?, Bukankah saya bebas memilih cita – cita saya?”, tanya Dodi lagi.
“Betul
kamu bebas memilih, namun pikirkan juga kemampuan keluargamu dan kenyataan yang
ada. Coba kamu bacakan kembali isi dari cita – cita dan keinginan kamu
itu!”perintah Pak Hilwan. Dodi pun berdiri dan membacakannya dengan suara
nyaring “Saya Dodi Irawan, bercita – cita ingin memiliki sawah 500 hektare, 100
ladang, dan 50 peternakan. Saya Dodi, ingin menjadi penguasaha ternak, padi,
dan ladang yang sukses dan dapat membahagiakan kedua orang tua saya dan seluruh
warga desa dengan hasil usaha saya sendiri”
Ketika
Dodi selesai membaca, seluruh kelas tertawa terbahak – bahak dengan ekspresi
tidak percaya. Pak Hilwan pun tertawa dan berkata “Dodi, cita – cita kamu itu
terlalu tinggi. Kamu lihat kedua orangtuamu hanya memiliki beberapa petak
sawah, bahkan sisanya pun menumpang dengan sawah orang lain. Kamu sekolah
disini pun karena beasiswa Dodi, bagaimana kamu bisa bercita – cita seperti
itu?”,jelas Pak Hilwan.
“Loh,
Pak, bukannya cita – cita itu harus setinggi langit? Saya menginginkan hal ini
Pak, dan menurut saya itu tidak salah” jawab Dodi.
“Memang
benar tidak salah, tetapi tidak masuk akal. Sudahlah, saya mau kamu ulang lagi
tugas ini, dan berikan saya jawaban cita – cita mu yang sesuai dengan kondisi
dan kemampuanmu!”perintah Pak Hilwan.
Dodi
pun diam dan mulai berpikir keras. Ia diberikan waktu seminggu untuk memikirkan
kembali cita – citanya. Namun, semakin dipikir ia kembali kepada cita – cita
awalnya. Melihat anaknya yang kebingungan dan tampak gelisah, ayah Dodi pun
bertanya “Mengapa kamu terlihat bingung nak?”tanyanya. Dodi pun menceritakan
semua kejadiannya secara detail. Mendengar hal tersebut , wajah ayah Dodi
menjadi lebih prihatin dan berkata “Sudahlah nak, memang benar apa yang
dikatakan gurumu. Kita ini rakyat kecil, janganlah berharap terlalu tinggi
untuk menjadi kaya”. Dodi kaget mendengar ucapan ayahnya “Apakah salah aku
percaya ayah?” tanya Dodi. “Tidak nak, kamu tidak salah, keadaan kita yang
patut disalahkan. Kamu kerjakan tugasmu dan ganti cita – cita mu dengan yang
lebih sesuai dengan keadaan kita”. Mendengar perkataan ayahnya, Dodi semakin
bingung , namun akhirnya ia sampai kepada keputusan akhirnya.
Seminggu
kemudian, Dodi menyerahkan kembali tugasnya kepada gurunya. Namun alangkah
kagetnya Pak Hilwan membaca tulisan Dodi. “Mengapa kamu belum mengganti cita –
citamu Dodi?”tanya Pak Hilwan. Dodi menjawab dengan mantap “Saya tidak akan
pernah mengganti cita – cita saya Pak, karena saya yakin dan percaya, saya
dapat mewujudkan cita – cita dan impian saya”. Mendengar jawaban Dodi, Pak
Hilwan tidak dapat berkata apa – apa lagi dan ia pun menerima tugas Dodi dengan
masih tidak percaya akan impian Dodi.
15
tahun kemudian, Pak Hilwan kaget sekaligus takjub dengan keberhasilan Dodi. Ia
melihat semua cita – cita Dodi saat ia masih duduk di bangku SD terwujud tanpa
terkecuali. Bahkan, sekarang Pak Hilwan meminta bantuan mengenai masalah
ekonominya dengan Dodi. Semua keperluan desanya, dibantu oleh Dodi sebagai
pengusaha sukses dan memiliki aset terbanyak. Pak Hilwan merasa malu dan merasa
tertampar dengan kata – katanya sendiri 15 tahun silam. Melihat Pak Hilwan,
Dodi menghampirinya dan berkata “Saya tahu saat itu saya tak mampu, tetapi saya
yakin dan percaya bahwa mimpi saya akan terwujud. Karena ini semua bukan karena
usaha saya namun karena penyertaan Tuhan yang memampukan saya. The power of dream, work, and believe in
God!!”.
Dari
cerita di atas, kita belajar untuk tidak meremehkan mimpi orang lain, melainkan
kita harus mendukungnya selagi mimpi dan impian itu benar dan baik adanya.
Marilah kita sebagai warga dunia hidup dalam kasih antar sesama dan saling
mendukung satu sama lain.
Yohohoho,,,
Fighting…!!!! JJJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar