Senin, 09 Februari 2015

Dunia Hebat



Kalau bicara mengenai dunia hebat, apa yang terlintas dalam benak kalian? Pasti ada yang berpikir dunia yang modern, dunia pengetahuan, dan dunia yang penuh dengan teknologi yang hebat dan maju. Kita sering berpikir dengan semakin majunya peradaban manusia, tentu dunia menjadi semakin hebat. Contohnya, globalisasi dunia yang meluas dan universal. Semua kegiatan di seluruh negara, dapat diketahui oleh negara lain berkat adanya teknologi dan ilmu pengetahuan. Kehidupan manusia pun menjadi lebih baik dengan semakin meningkatnya taraf hidup dan perekonomian bangsa. Namun, apakah dunia yang hebat hanya sebatas itu?
Coba kita selidiki sebagian kehidupan pinggiran di dunia ini. Dunia dimana tidak ada kehidupan modern dan masih bisa dibilang primitif. Apakah kita peduli pada mereka? Masyarakat disana masih berkekurangan dan tidak mengetahui apa itu teknologi. Mengapa kita tidak merangkul mereka? Jawabannya, karena dunia yang kita sebut “hebat” ini adalah dunia yang kejam. Dunia yang hanya memandang kemampuan seseorang dengan sebelah mata. Dunia ini hanya melihat kepada orang – orang yang menguasai dunia itu sendiri saja. Misalnya, para penguasa dan konglongmerat. Kita tidak tahu, pekerjaan “kotor” mereka, yang kita tahu mereka adalah orang – orang berada yang menguasai dunia ini.
Kehidupan seperti ini marak terjadi di setiap negara. Contohnya, dalam bidang pendidikan. Orang yang bisa dibilang “bodoh” karena malas, bisa mendapatkan nilai tinggi hanya karena uang semata. Sedangkan, orang yang benar – benar cerdas dirugikan karena tidak berdaya dengan permainan uang yang merajalela. Sungguh, menjadi sebuah dilema bagi suatu negara. Perih hati ini melihat begitu banyak ketidakadilan yang terjadi. Hanya karena nasib beruntung seseorang yang dilahirkan sebagai anak orang kaya, lalu bagaimana dengan yang miskin? Apakah kita hanya bisa menutup mata, dan tetap berjalan lurus ke depan tanpa memikirkan mereka dan berkata “Emang gue pikirin?”
Ingat, apa yang kita lakukan pada orang lain, begitu pula yang orang lain akan perbuat pada kita. Hidup ini berputar kawan, seperti bumi yang berputar pada porosnya. Kita tidak akan selalu berada di atas dan menikmati setiap kemewahan yang ada. Karena apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Bila kita tidak peduli dan hidup semena – mena, sesuai dengan kemauan kita saja, maka kita pun nantinya cepat atau lambat akan menerima ganjarannya. Sama seperti uang tadi, kekuasaan pun mempengaruhi kehidupan seseorang. Dengan kuasa, seseorang dapat melakukan segalanya, ia dapat memerintah segala sesuatu seenak jidatnya, tanpa memikirkan keadaan orang lain. Ia tidak peduli apakah orang itu sedang dalam kesusahan atau tidak sanggup menuruti perintahnya, pokoknya Kerjakan Saja!!
Kejam bukan ? Dunia ini tidaklah begitu hebat teman, apa yang kita anggap baik, dianggap jahat oleh dunia. Sedangkan apa yang kita anggap buruk, dianggap baik oleh dunia. Jadi, kekuasaan dan uang lah yang bertahta di atas dunia ini. Kita sebagai kaum awam yang menengah, yang hanya dapat melakukan perintah, hanya dapat pasrah demi bertahan hidup. Lalu, bagaimna sebenarnya dunia yang hebat itu?
Berbagai variasi pendapat dilontarkan untuk menggambarkan bagaimana dunia yang hebat sesungguhnya. Namun, menurut saya pribadi, dunia yang hebat itu adalah dunia yang didasarkan pada KASIH. Mengapa demikian? Karena dengan kasih, kita dapat memberi. Dengan kasih kita dapat mengampuni, kita sabar dalam bertindak, dan kita mengingat akan orang lain. Bila setiap warga dunia menerapkan kasih kepada sesamanya, maka peperangan akan reda bahkan sirna, dan kehidupan menjadi damai dan tenteram. Bukankah kehidupan yang damai yang kita inginkan? Sekarang, di Timur Tengah banyak terjadi perang agama, yang memakan ribuan korban? Mengapa hal itu bisa terjadi? Tentunya, karena merebut yang namanya KEKUASAAN. Benar, kuasa ini begitu hebat untuk memimpin dunia. Namun, inilah yang menjadi penyebab kehancuran dunia. Hari demi hari, manusia semakin jahat dan bejat, semakin tidak masuk akal bahkan gila. Keinginan berbuat jahat semakin besar karena berbagai macam alasan. Oleh karena itu, hanyalah kasih yang dapat menghilangkan itu semua. Bagaimana kita menerapkan kasih itu?
Kita tahu kasih itu adalah rasa sayang dan peduli kita terhadap orang lain. Namun, jujur, sangat sulit untuk menerapkannya. Seringkali kita tidak peduli akan orang lain, dan hanya mementingkan diri sendiri. Kita juga sering meremehkan orang lain bahkan menindas mereka. Jangan menjadi duri dalam daging, teman. Cobalah untuk peduli, dan bantulah orang lain, karena demikian pulalah yang orang lain akan lakukan padamu. Sikap jujur juga diperlukan dalam kasih mengasihi. Bila kalian hanya mengasihi seseorang dengan maksud tersembunyi, maka apa gunanya kasih itu? Kasih itu lemah lembut dan tanpa pamrih, seperti Tuhan yang mengasihi kita dengan tulus dan setia menyertai kehidupan kita. Jadi, kasihilah sesamamu manusia seperti Tuhanmu yang di sorga juga mengasihimu.
Kembali, pada dunia yang hebat. Dunia ini tidak cukup hanya menjadi hebat, tetapi juga dunia yang indah. Dunia penuh perdamaian dan suka cita. Dunia yang tidak ada diskriminasi dan pilih kasih. Dunia yang adil dengan kasih didalamnya. Seperti cerita berikut, yang mengambarkan bagaimana seseorang yang merendahkan orang lain ;
Dodi adalah seorang siswa SD kelas IV. Dodi adalah anak seorang petani miskin yang hanya memiliki beberapa petak sawah. Suatu hari, Dodi mendapatkan tugas dari gurunya untuk menuliskan cita – cita dan keinginannya. Teman – teman Dodi amat semangat dan mulai menuliskan keinginan mereka. Namun, Dodi bingung dan gelisah. Ia tidak tahu apa yang harus ia tulis. Satu jam berlalu, dan Dodi masih belum menuliskan apapun. Sampai 15 menit sebelum tugas dikumpulkan, Dodi memantapkan hatinya, dan menuliskan cita – cita dan keinginannya pada secarik kertas dan mengumpulkannya kepada gurunya.
Keesokan harinya, Guru Dodi yang bernama Pak Hilwan, membagikan hasil tugas kemarin dan berkata semua cita – cita dan keinginan siswa – siswinya bagus, kecuali satu orang yaitu Dodi. Wah, tentu saja Dodi bingung dan berkata “Pak, mengapa keinginan saya tidak bagus?”
“Keinginan dan cita – cita kamu itu tidak masuk akal Dodi!”,tegas Pak Hilwan.        
“Mengapa Pak?, Bukankah saya bebas memilih cita – cita saya?”, tanya Dodi lagi.
“Betul kamu bebas memilih, namun pikirkan juga kemampuan keluargamu dan kenyataan yang ada. Coba kamu bacakan kembali isi dari cita – cita dan keinginan kamu itu!”perintah Pak Hilwan. Dodi pun berdiri dan membacakannya dengan suara nyaring “Saya Dodi Irawan, bercita – cita ingin memiliki sawah 500 hektare, 100 ladang, dan 50 peternakan. Saya Dodi, ingin menjadi penguasaha ternak, padi, dan ladang yang sukses dan dapat membahagiakan kedua orang tua saya dan seluruh warga desa dengan hasil usaha saya sendiri”
Ketika Dodi selesai membaca, seluruh kelas tertawa terbahak – bahak dengan ekspresi tidak percaya. Pak Hilwan pun tertawa dan berkata “Dodi, cita – cita kamu itu terlalu tinggi. Kamu lihat kedua orangtuamu hanya memiliki beberapa petak sawah, bahkan sisanya pun menumpang dengan sawah orang lain. Kamu sekolah disini pun karena beasiswa Dodi, bagaimana kamu bisa bercita – cita seperti itu?”,jelas Pak Hilwan.
“Loh, Pak, bukannya cita – cita itu harus setinggi langit? Saya menginginkan hal ini Pak, dan menurut saya itu tidak salah” jawab Dodi.
“Memang benar tidak salah, tetapi tidak masuk akal. Sudahlah, saya mau kamu ulang lagi tugas ini, dan berikan saya jawaban cita – cita mu yang sesuai dengan kondisi dan kemampuanmu!”perintah Pak Hilwan.
Dodi pun diam dan mulai berpikir keras. Ia diberikan waktu seminggu untuk memikirkan kembali cita – citanya. Namun, semakin dipikir ia kembali kepada cita – cita awalnya. Melihat anaknya yang kebingungan dan tampak gelisah, ayah Dodi pun bertanya “Mengapa kamu terlihat bingung nak?”tanyanya. Dodi pun menceritakan semua kejadiannya secara detail. Mendengar hal tersebut , wajah ayah Dodi menjadi lebih prihatin dan berkata “Sudahlah nak, memang benar apa yang dikatakan gurumu. Kita ini rakyat kecil, janganlah berharap terlalu tinggi untuk menjadi kaya”. Dodi kaget mendengar ucapan ayahnya “Apakah salah aku percaya ayah?” tanya Dodi. “Tidak nak, kamu tidak salah, keadaan kita yang patut disalahkan. Kamu kerjakan tugasmu dan ganti cita – cita mu dengan yang lebih sesuai dengan keadaan kita”. Mendengar perkataan ayahnya, Dodi semakin bingung , namun akhirnya ia sampai kepada keputusan akhirnya.
Seminggu kemudian, Dodi menyerahkan kembali tugasnya kepada gurunya. Namun alangkah kagetnya Pak Hilwan membaca tulisan Dodi. “Mengapa kamu belum mengganti cita – citamu Dodi?”tanya Pak Hilwan. Dodi menjawab dengan mantap “Saya tidak akan pernah mengganti cita – cita saya Pak, karena saya yakin dan percaya, saya dapat mewujudkan cita – cita dan impian saya”. Mendengar jawaban Dodi, Pak Hilwan tidak dapat berkata apa – apa lagi dan ia pun menerima tugas Dodi dengan masih tidak percaya akan impian Dodi.
15 tahun kemudian, Pak Hilwan kaget sekaligus takjub dengan keberhasilan Dodi. Ia melihat semua cita – cita Dodi saat ia masih duduk di bangku SD terwujud tanpa terkecuali. Bahkan, sekarang Pak Hilwan meminta bantuan mengenai masalah ekonominya dengan Dodi. Semua keperluan desanya, dibantu oleh Dodi sebagai pengusaha sukses dan memiliki aset terbanyak. Pak Hilwan merasa malu dan merasa tertampar dengan kata – katanya sendiri 15 tahun silam. Melihat Pak Hilwan, Dodi menghampirinya dan berkata “Saya tahu saat itu saya tak mampu, tetapi saya yakin dan percaya bahwa mimpi saya akan terwujud. Karena ini semua bukan karena usaha saya namun karena penyertaan Tuhan yang memampukan saya. The power of dream, work, and believe in God!!”.
Dari cerita di atas, kita belajar untuk tidak meremehkan mimpi orang lain, melainkan kita harus mendukungnya selagi mimpi dan impian itu benar dan baik adanya. Marilah kita sebagai warga dunia hidup dalam kasih antar sesama dan saling mendukung satu sama lain.
Yohohoho,,, Fighting…!!!! JJJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar