Meskipun mulut berbusa penuh kata
dan janji, namun tak ada tindakan, tetap saja hasilnya nihil!!!
Yah, sudah lama mimin
sang penulis kalian tidak hadir mewarnai indahnnya jejaring sosial :3. By the way mimin itu singkatan dari admin, biar lebih akrab , hehe :D untuk
seterusnya panggil mimin aja ya :P.
Dengan segenap kegiatan
yang menurut mimin buanyaak banget, jadi mimin lama gak nulis blog ini. Hmmm,..
kalau dihitung – hitung sih mungkin sekitar 8 minggu. Nah, jadi sekarang mimin
nulis lagi, berhubung ada panggilan alam dari guru mimin yang paling daebak (luar biasa #sembahsujud^^).
Menjawab dan
menyambungkan kalimat awal mimin, kali ini mimin mau share tentang keputusan. Yap, keputusan adalah suatu ide atau
pendapat yang diambil untuk dilakukan melalui kesepakatan bersama atau asumsi
pribadi. Keputusan sangat penting karena keputusan juga merupakan suatu
pilihan. Pilihan yang diambil untuk dilakukan dan bertekad apapun resikonya.
Keputusan merupakan sesuatu yang rawan, apalagi kalau orang tersebut masih labil
dan belum dewasa. Keputusan itu sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu keputusan
yang baik dan keputusan yang buruk. Keputusan yang baik adalah keputusan yang
berakibat baik bagi diri sendiri maupun orang lain , begitu juga sebaliknya.
Suatu keputusan diambil
ketika seseorang berada dalam situasi yang rumit dan harus mengambil tindakan
yang cepat namun memiliki resiko yang kecil. Tetapi, tidak jarang juga ada
orang yang berani mengambil keputusan dengan resiko yang besar. Keputusan
berasal dari hati dan perasaan. Emosi membawa kita untuk berpikir secara cepat
ketika menghadapi suatu masalah. Apakah keputusan itu baik atau buruk, tidak
ada yang tahu, sebelum keputusan itu dibuktikan kebenarannya. Ya, sama seperti
misteri. Suatu keputusan akan berdampak beda dengan keputusan lainnya. Bila
kita hubungkan dengan logika, mungkin akan sama. Logika selalu terarah menurut
akal pikiran manusia yang wajar dan sudah tahu dampaknya. Nah, sama seperti
keputusan yang selalu dipikirkan secara matang kemudian baru dilakukan. Namun,
masalahnya, keefektifan suatu keputusan itulah apakah baik atau buruk.
Setiap manusia akan
mengalami suatu masalah baik itu kecil atau pun besar. Setiap maalah itu sama
saja kadarnya. Sekali masalah akan tetap menjadi masalah yang merepotkan.
Biasanya, dengan pembawaan sifat manusia yang berbeda – beda, hal kecil saja
dapat menjadi masalah. Misalnya, dua sahabat yang sudah berteman cukup lama
saling bercanda. Salah seorang sahabatnya tidak sengaja mengeluarkan candaan
yang menyinggung perasaan sahabatnya. Walaupun, orang lain yang mendengar
candaan itu menganggap bahwa candaan itu hal biasa. Namun, kita tidak tahu apa
yang orang lain pikirkan. Bisa saja temannya merasa sangat tersinggung walaupun
ia tidak menunjukkannya. Bukannya ini merupakan awal dari sebuah masalah? Yang
tidak menutup kemungkinan akan merebak menjadi masalah besar?
Mungkin saja, hati
temannya yang tersinggung ini tidak terima dengan perkataan temannya. Dan
setiap hari perkataan itu selalu terngiang – ngiang ditelinganya. Setiap ia
melihat wajah sahabatnya, maka ia akan teringat kembali dengan candaan temannya
yang menurutnya adalah sebuah hinaan yang sangat besar. Sikapnya setiap hari
semakin berubah, ia tidak lagi terlalu mau bertegur sapa dengan temannya.
Namun, ia sadar ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Perasaan tidak enak
hati. Inilah yang disebut, awal dari akar kepahitan yang dapat menjalar
menguasai pikiranmu bila tidak segera diberantas. Disinilah peran suatu
keputusan.
Sebagai manusia yang
beriman dan beragama, kita pasti tahu apa itu mengampuni. Apapun agamanya,
pastilah diajarkan untuk saling mengampuni dan memaafkan. Kita tahu teorinya,
bahkan kadang kita juga dapat menjelaskannnya, panjang lebar sampai mulut
berbusa – busa, tetapi praktiknya NOL BESAR.
Tidak usah mengelak,
memaafkan orang lain yang sudah melukai hati tentu sangat SUSAH. Apalagi, bila
orang tersebut adalah orang yang sangat dekat dengan kita bahkan keluarga kita
sendiri. Namun, kita harus mengambil suatu KEPUTUSAN yang BENAR. Putuskan ,
apakah kamu mau terus berlarut – larut dicengkram oleh rasa benci dan pahit
kepada orang lain? Apakah kamu mau setiap hari merasakan perasaan mengganjal
dan tidak bahagia? Membenci orang lain dan tidak bisa memaafkan?
Sakit , ya sakit hati
setiap saat. Memikirkan hal yang selalu sama, apakah kalian tidak lelah? Ayo,
putuskan keputusan yang tepat. Memaafkan atau terus Membenci?
Membenci itu tidak ada
gunanya, hanya menyiksa jiwa dan pikiran. Berpikirlah dewasa dan putuskan untuk
memaafkan. Semuanya bergantung pada keputusan yang kamu ambil.
Seringkali kalau
membuat keputusan, mungkin kalian berpikir akibat yang akan terjadi di masa
depan. Yah itu wajar, karena kita manusia yang hidup tidak ingin hal buruk
menimpa kehidupan kita. Kadangkala, kalian juga harus berani mengambil resiko.
Bila kalian sudah memutuskan, maka ambillah dan kerjakan keputusan itu dengan sungguh
– sungguh. Sekali maju tetap maju, jangan menoleh ke belakang sedikit pun
(emang mau jadi patung :p). Kalau iya maka katakan iya, kalau tidak katakan tidak.
Jangan ketika maju iya tetapi saat badai menerpa maka berjalan mundur dan mengatakan
tidak. Kita butuh INTEGRITAS kawan!! Jangan setengah – setengah dalam mengambil
keputusan. Oleh karena itu, berpikirlah dewasa dan pikirkan setiap akibat dalam
keputusan yang kamu ambil.
Hanya kamu yang berhak
mengambil keputusan untuk dirimu sendiri. Tetapi, tidak ada salahnya juga bila
kamu mendengarkan nasehat orang lain. Dengarkan pendapat mereka, pikirkan apa
itu baik atau tidak untukmu, lalu putuskankanlah.
Mimin yakin, kita semua,
mimin dan para pembaca pasti dapat mengambil keputusan yang terbaik dan berguna
dalam hidup kita masing – masing. Maju terus pantang mundur, dan selalu
mengucap syukur. Sebagai penutup mimin mau kasih sebuah cerita pendek dari
penulis, cerpenis, dan novelis idolanya mimin, mbak Santhy Agatha. Selamat
membaca dan terhibur :3
Yang
Tak Tersampaikan
Aku memanjat pohon itu
seperti yang biasa aku lakukan, dengan penuh semangat, malam ini entah kenapa
kau begitu bertekad. Aku kangen sekali sama Upit dan senyumannya, aku kangen
ngobrol dengannya. Ketika sampai di depan jendela lantai dua, aku melompat
sehingga mendarat dengan sukses di lantai balkonnya, kulihat Upit sedang duduk
di kursi belakangnya, kacamatanya terpasang dan dia sedang serius menghadap
komputernya.
Dengan lembut kuketuk
jendela kamarnya sekali, dua kali, akhirnya aku berhasil membuyarkan
konsentrasi sahabatku itu, dia menoleh ke jendela, dan seperti biasanya reaksi
pertamanya adalah cemberut. Aku sengaja memasang ekspresi lucu di depan
jendela, membuat Upit makin cemberut. Tetapi walaupun begitu, sahabatku itu
tetap berdiri dan membukakan jendela untukku,
“Lewat jalan yang
normal – normal saja nggak bisa ya?”, gerutu Upit ketika aku melompati ambang jendelanya
dan memasuki kamarnya.
Aku tergelak, “Kalo
lewat pintu depan yang ada aku harus ngobrol sama papamu di ruang tamu, dan
ujung – ujungnya bukannya ketemu sama kamu , aku harus meladeni tantangannya
untuk main catur”. Upit tersenyum dan menepuk bahuku dengan sayang,”Kamu sih,
sekali – kali ngalah dong sama papa, jadi dia nggak akan penasaran nantangin
kamu main catur terus”
Aku tergelak
mendengarnya, lalu dengan santai kubantingkan tubuhku ke ranjang Upit yang
begitu feminim, bermotifkan strawberry
warna pink. Segera Upit menyusulku duduk di pinggir ranjang, sambil menggerutu
bahwa spreinya baru diganti, bahwa ranjangnya pasti kotor karena aku habis dari
luar naik – naik pohon. Aku hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai angin
lewat. Upit memang selalu begitu, cerewet, cemberut, dan tukang ngomel, tetapi
dibalik itu, dia penuh kasih sayang luar biasa kepadaku.
Kami sudah berteman
sejak lama, kalau boleh dibilang sejak lahir. Kami hanya selisih satu hari. Upit
yang lebih tua satu hari dariku dan mungkin itu juga yang membuatnya menobatkan
diri sebagai kakak angkat perempuanku. Mungkin juga karena aku sebagai laki –
laki memang sejak kecil selalu lemah dan sakit – sakitan. Aku tidak seberuntung
Upit yang lahir sehat, aku terlahir dengan katup jantung yang tidak normal,
sehingga kerjaanku hanyalah keluar masuk rumah sakit. Aku tidak bisa sekolah
seperti anak – anak biasa, aku sekolah di rumah karena tubuhku sangat lemah.
Tetapi Upit tidak pernah meninggalkanku karenanya, sejak kecil, setiap pulang
sekolah dia selalu mengunjungiku ke rumah, berbagi cerita. Kami sudah seperti
kakak adik yang saling menyayangi. Dan itu berlangsung bahkan sampai Upit sudah
hampir lulus kuliah di jurusan hukum yang sangat disukainya, sedangkan aku
semakin sering menghabiskan waktuku di rumah sakit. Dalam setahun mungkin 7
bulannya aku habiskan di rumah sakit, dan hebatnya Upit tetap selalu
menyempatkan diri mampir di rumah sakit ketika aku dirawat.
Aku sebenarnya pumya seorang
kakak laki – laki yang tiga tahun lebih tua dariku. Dulu dimasa kecil kami
lumayan akrab. Kak Bagas, aku, dan Upit selalu bermain bersama – sama. Sebenarnya
aku dan Upit yang bermain bersama dan Kak Bagas yang bertugas menjaga kami.
Tetapi bagaimanapun juga kami sangat akrab, seperti tiga kakak beradik yang
saling menyayangi.
“Kemarin kan kamu masih
di rumah sakit toh Mario, kok tiba – tiba kamu nongol di sini, kapan kamu
diperbolehkan pulang dari rumah sakit?Kok aku nggak liat mobil Om Marlon ya?”,
Upit melongokkan wajahnya ke seberang jendela, ke arah rumahku berusaha mencari
penampakan mobil papaku, dan diluar sudah gelap jadi yang tampak diluar hanya
kegelapan pekat.
Aku mengangkat bahu, “Kamu
tidur kali pas aku pulang”. Sambil terkekeh Upit melemparkan bantal ke mukaku, “Sembarangan.
Aku dari tadi siang berkutat di dapur sama mama, nyiapin makanan buat buka
puasa tau!”, suara Upit tiba – tiba berubah lembut. “Gimana hasil diagnosa dokter,
Mario?,kemarin Kak Bagas cerita kalau kamu harus operasi katup jantung yang
kedua kalinya…tapi katanya kamu nolak”
Aku memalingkan muka,
menghindari tatapan Upit,”Bisa nggak kita nggak ngomongin itu?Aku capek”. “Tapi
kamu harus berani Mario”, Upit tetap melanjutkan tidak peduli dengan tubuhku
yang menegang kaku,”Operasi itu kemungkinan suksesnya besar, kamu mungkin akan
bisa sehat seperti sedia kala”. “Kemungkinan kesuksesan operasi itu Cuma 50:50”,
sambarku getir, kutatap Upit tajam, berusaha menahan kegetiran,”Kamu nggak tahu
betapa takutnya aku kalau harus mati di atas meja operasi….”, aku nggak mau
mati sebelum aku menungkapkan betapa aku mencintaimu Pit, desahku dalam hati.
Tentu saja hanya dalam hati, aku sampai sekarang tidak punya keberanian untuk mengungkapkan
persaan cintaku secara terang – terangan kepada sahabatku ini. Ya, sudah sejak
lama , mungkin sejak dulu aku mencintai Upit. Perasaan itu semakin berkembang
seiring dengan bertambah lamanya kebersamaanku dengan Upit, dan kadang memendam
cinta seperti ini terasa begitu menyakitkan.
Dan entah kenapa malam ini
aku bersemangat. Bersemangat untuk menyatakan cintaku kepada Upit. Entah nanti
aku akan diterima atau tidak, aku ingin mengungkapkan perasaanku. Di dalam
kantongku ada sebuah cincin mungil dengan ukiran bunga. Cincin yang indah,
seindah perempuan di depanku ini. Kalau Upit mau menerima cintaku, aku ingin
memberikan cincin itu kepadanya, dan mungkin aku berani untuk melakukan operasi
katup jantung itu, demi Upit.
“Tapi aku ingin kamu
sehat Mario”, mata Upit berkaca – kaca dan menatapku penuh perasaan, membuat
lidahku kelu. “Pit…”, suaraku bergetar ragu,”Pit…kamu sayang enggak sama aku?”
Upit mengernyitkan kening lalu tersenyum, “Ya tentulah aku sayang sama kamu,
kita ini udah lebih dari sodara, kamu itu sangat berarti buatku Mario…” “Bukan
begiu..maksudku..”
“Lagipula sebentar lagi
kan kita menjadi saudara…”, gumam Upit penuh rahasia.Pengakuan cinta yang tadi
sudah diujung lidah terhenti seketika, aku menatap Upit bingung.
“Maksudnya….?” Pipi
Upit mulai bersemu merah ketika menatapku, lau dia tersenyum malu – malu, “Sebenarnya
kami ingin merahasiakannya dulu Mario…tapi…kamu kan bukan orang lain, jadi
menurutku dia juga nggak akan marah kalau aku memberitahumu lebih cepat”, Upit
berdehem pelan, membuatku merasa gugup. “Maksudnya…?”, rasanya aku seperti
kaset rusak yang mengulang – ngulang kata yang sama. Upit memegang pipinya yang
memerah, “Kak Bagas melamarku Mario..rencananya begitu aku menyelesaikan skripsi,
Kak Bagas mau melamarku ke Papa…”
Senyum bahagia Upit
bagaikan sembilu yang menusuk jantungku. Sejenak aku terpana dan tidak bisa
berkata – kata. “Maksudmu,,,kamu dan Kak Bagas….?”, aku berusaha mencerna
kenyataan ,ini, tetapi entah kenapa batinku menolak tak mau menerima, “Kapan…?Bagaimana….?”,
tanpa sengaja jemariku meremas cincin mungil di sakuku, sampai tulang jemariku
terasa sakit.
“Selama ini kami
merahasiakannya ke kamu Mario, aku yang meminta kak Bagas melakukannya, habis
aku malu dan takut kamu nanti menertawakanku habis – habisan karena akhirnya
pacaran sama Kak Bagas…tapi Mario… sebenarnya sejak kecil aku sudah jatuh cinta
kepada Kak Baga, dan sangat mengidolakannya, tak disangka Kak Bagas juga
menyimpan perasaan yang sama”, mata Upit bersinar, mata perempuan yang sedang
dimabuk cinta.
Saat aku masih terpana
membisu, Upit menyentuh lenganku dan meremasnya lembut, “Aku senang Mario,
kalau aku nanti menikah dengan Kak Bagas , kita benar – benar bisa menjadi satu
keluarga, kamu tahu aku itu senang sekali menjadi kakakmu, kamu pasti juga
senang kan kalau kita benar –benar menjadi kakak adik?’. Lidahku kelu dan
hatiku hancur, tetapi tidak ada yang bisa aku katakan. Aku mematung membisu
dalam patah hati yang luar biasa dalam. Upit mengernyitkan keningnya menatapku,
“Mario? Kok kamu jadi pucat sekali?” Jemarinya menyentuh lenganku lagi, “Astaga
kamu dingin banget!!!!Harusnya pulang dari rumah sakit kamu langsung istirahat
bukannya kemari, pake manjat – manjat pohon segala….!”, dengan panik Upit
mengambil selimut dan menyelimutiku,”Sebentar aku akan telepon Kak Bagas untuk
menjemputmu…”
Baru saja Upit hendak
mengangkat ponsel, pintunya diketuk dengan keras. Lama – lama ketukannya
semakin keras dan mendesak, “Siapa sih malam – malam begini?”, Upit menggerutu
dan melangkah ke pintu lalu membukanya. Kulihat Kak Bagas berdiri di sana,
wajahnya tampak pucat dan kuyu, rambutnya berantakan, “Lho, Kak Bagas?
Kebetulan sekali, aku baru saja mau menelepon Kak Bagas….”
“Pit, kita harus ke
rumah sakit….” Suara Kak Bagas tampak serak penuh kepedihan. Kudengar Upit
tersentak kebingungan, “Siapa yang sakit Kak?” Sedikit kulihat Kak Bagas
menatap Upit bingung, lalu menggelengkan kepalanya, air mata menetes pelan dari
matanya, mengaliri pipinya, “Mario Pit, satu jam yang lalu dia mendapat
serangan , dan jatuh koma, dokter berusaha menyadarkannya. Tetapi dia tidak
bangun lagi. Dia meninggal Pit….”
“Tidak mungkin Kak!!!
Barusan saja aku dengan Marioo….”, kulihat Upit menoleh ke ranjang , menatapku…
Tapi saat itulah kusadari bahwa yang dilihat Upit hanyalah ranjang kosong. Tak
ada siapa – siapa disitu. Kulihat Upit semakin pucat dan kemudian jatuh pingsan
dipelukan Kak Bagas yang segera menangkapnya. Suara – suara gaduh kemudian
terdengar karena mama dan papa Upit menyusul ke atas. Sementara aku masih duduk
di ranjang itu, menatap tanganku sendiri yang sekarang tembus pandang. Dihantam
kenyataan bahwa bahkan sampai akhir hidupku, aku tidak pernah bisa
mengungkapkan perasaan yang telah ku pendam sekian lama kepada perempuan yang
kucintai.
Anganku melayang ke
kotak kecil berisi cincin di laci kamarku yang tersimpan dengan baik di sana.
Cincin itu tidak akan pernah diserahkan….tidak akan pernah tersampaikan. Aku
memejamkan mata dengan setetes air mata bergulir, sebelum semuanya menjadi
kabur dan lenyap.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar