Rabu, 01 April 2015

YOUR DECIDE



Meskipun mulut berbusa penuh kata dan janji, namun tak ada tindakan, tetap saja hasilnya nihil!!!
Yah, sudah lama mimin sang penulis kalian tidak hadir mewarnai indahnnya jejaring sosial :3. By the way mimin itu singkatan dari admin, biar lebih akrab , hehe :D untuk seterusnya panggil mimin aja ya :P.
Dengan segenap kegiatan yang menurut mimin buanyaak banget, jadi mimin lama gak nulis blog ini. Hmmm,.. kalau dihitung – hitung sih mungkin sekitar 8 minggu. Nah, jadi sekarang mimin nulis lagi, berhubung ada panggilan alam dari guru mimin yang paling daebak (luar biasa #sembahsujud^^).
Menjawab dan menyambungkan kalimat awal mimin, kali ini mimin mau share tentang keputusan. Yap, keputusan adalah suatu ide atau pendapat yang diambil untuk dilakukan melalui kesepakatan bersama atau asumsi pribadi. Keputusan sangat penting karena keputusan juga merupakan suatu pilihan. Pilihan yang diambil untuk dilakukan dan bertekad apapun resikonya. Keputusan merupakan sesuatu yang rawan, apalagi kalau orang tersebut masih labil dan belum dewasa. Keputusan itu sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu keputusan yang baik dan keputusan yang buruk. Keputusan yang baik adalah keputusan yang berakibat baik bagi diri sendiri maupun orang lain , begitu juga sebaliknya.
Suatu keputusan diambil ketika seseorang berada dalam situasi yang rumit dan harus mengambil tindakan yang cepat namun memiliki resiko yang kecil. Tetapi, tidak jarang juga ada orang yang berani mengambil keputusan dengan resiko yang besar. Keputusan berasal dari hati dan perasaan. Emosi membawa kita untuk berpikir secara cepat ketika menghadapi suatu masalah. Apakah keputusan itu baik atau buruk, tidak ada yang tahu, sebelum keputusan itu dibuktikan kebenarannya. Ya, sama seperti misteri. Suatu keputusan akan berdampak beda dengan keputusan lainnya. Bila kita hubungkan dengan logika, mungkin akan sama. Logika selalu terarah menurut akal pikiran manusia yang wajar dan sudah tahu dampaknya. Nah, sama seperti keputusan yang selalu dipikirkan secara matang kemudian baru dilakukan. Namun, masalahnya, keefektifan suatu keputusan itulah apakah baik atau buruk.
Setiap manusia akan mengalami suatu masalah baik itu kecil atau pun besar. Setiap maalah itu sama saja kadarnya. Sekali masalah akan tetap menjadi masalah yang merepotkan. Biasanya, dengan pembawaan sifat manusia yang berbeda – beda, hal kecil saja dapat menjadi masalah. Misalnya, dua sahabat yang sudah berteman cukup lama saling bercanda. Salah seorang sahabatnya tidak sengaja mengeluarkan candaan yang menyinggung perasaan sahabatnya. Walaupun, orang lain yang mendengar candaan itu menganggap bahwa candaan itu hal biasa. Namun, kita tidak tahu apa yang orang lain pikirkan. Bisa saja temannya merasa sangat tersinggung walaupun ia tidak menunjukkannya. Bukannya ini merupakan awal dari sebuah masalah? Yang tidak menutup kemungkinan akan merebak menjadi masalah besar?
Mungkin saja, hati temannya yang tersinggung ini tidak terima dengan perkataan temannya. Dan setiap hari perkataan itu selalu terngiang – ngiang ditelinganya. Setiap ia melihat wajah sahabatnya, maka ia akan teringat kembali dengan candaan temannya yang menurutnya adalah sebuah hinaan yang sangat besar. Sikapnya setiap hari semakin berubah, ia tidak lagi terlalu mau bertegur sapa dengan temannya. Namun, ia sadar ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Perasaan tidak enak hati. Inilah yang disebut, awal dari akar kepahitan yang dapat menjalar menguasai pikiranmu bila tidak segera diberantas. Disinilah peran suatu keputusan.
Sebagai manusia yang beriman dan beragama, kita pasti tahu apa itu mengampuni. Apapun agamanya, pastilah diajarkan untuk saling mengampuni dan memaafkan. Kita tahu teorinya, bahkan kadang kita juga dapat menjelaskannnya, panjang lebar sampai mulut berbusa – busa, tetapi praktiknya NOL BESAR.
Tidak usah mengelak, memaafkan orang lain yang sudah melukai hati tentu sangat SUSAH. Apalagi, bila orang tersebut adalah orang yang sangat dekat dengan kita bahkan keluarga kita sendiri. Namun, kita harus mengambil suatu KEPUTUSAN yang BENAR. Putuskan , apakah kamu mau terus berlarut – larut dicengkram oleh rasa benci dan pahit kepada orang lain? Apakah kamu mau setiap hari merasakan perasaan mengganjal dan tidak bahagia? Membenci orang lain dan tidak bisa memaafkan?
Sakit , ya sakit hati setiap saat. Memikirkan hal yang selalu sama, apakah kalian tidak lelah? Ayo, putuskan keputusan yang tepat. Memaafkan atau terus Membenci?
Membenci itu tidak ada gunanya, hanya menyiksa jiwa dan pikiran. Berpikirlah dewasa dan putuskan untuk memaafkan. Semuanya bergantung pada keputusan yang kamu ambil.
Seringkali kalau membuat keputusan, mungkin kalian berpikir akibat yang akan terjadi di masa depan. Yah itu wajar, karena kita manusia yang hidup tidak ingin hal buruk menimpa kehidupan kita. Kadangkala, kalian juga harus berani mengambil resiko. Bila kalian sudah memutuskan, maka ambillah dan kerjakan keputusan itu dengan sungguh – sungguh. Sekali maju tetap maju, jangan menoleh ke belakang sedikit pun (emang mau jadi patung :p). Kalau iya maka katakan iya, kalau tidak katakan tidak. Jangan ketika maju iya tetapi saat badai menerpa maka berjalan mundur dan mengatakan tidak. Kita butuh INTEGRITAS kawan!! Jangan setengah – setengah dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, berpikirlah dewasa dan pikirkan setiap akibat dalam keputusan yang kamu ambil.
Hanya kamu yang berhak mengambil keputusan untuk dirimu sendiri. Tetapi, tidak ada salahnya juga bila kamu mendengarkan nasehat orang lain. Dengarkan pendapat mereka, pikirkan apa itu baik atau tidak untukmu, lalu putuskankanlah.
Mimin yakin, kita semua, mimin dan para pembaca pasti dapat mengambil keputusan yang terbaik dan berguna dalam hidup kita masing – masing. Maju terus pantang mundur, dan selalu mengucap syukur. Sebagai penutup mimin mau kasih sebuah cerita pendek dari penulis, cerpenis, dan novelis idolanya mimin, mbak Santhy Agatha. Selamat membaca dan terhibur :3
Yang Tak Tersampaikan
Aku memanjat pohon itu seperti yang biasa aku lakukan, dengan penuh semangat, malam ini entah kenapa kau begitu bertekad. Aku kangen sekali sama Upit dan senyumannya, aku kangen ngobrol dengannya. Ketika sampai di depan jendela lantai dua, aku melompat sehingga mendarat dengan sukses di lantai balkonnya, kulihat Upit sedang duduk di kursi belakangnya, kacamatanya terpasang dan dia sedang serius menghadap komputernya.
Dengan lembut kuketuk jendela kamarnya sekali, dua kali, akhirnya aku berhasil membuyarkan konsentrasi sahabatku itu, dia menoleh ke jendela, dan seperti biasanya reaksi pertamanya adalah cemberut. Aku sengaja memasang ekspresi lucu di depan jendela, membuat Upit makin cemberut. Tetapi walaupun begitu, sahabatku itu tetap berdiri dan membukakan jendela untukku,
“Lewat jalan yang normal – normal saja nggak bisa ya?”, gerutu Upit ketika aku melompati ambang jendelanya dan memasuki kamarnya.
Aku tergelak, “Kalo lewat pintu depan yang ada aku harus ngobrol sama papamu di ruang tamu, dan ujung – ujungnya bukannya ketemu sama kamu , aku harus meladeni tantangannya untuk main catur”. Upit tersenyum dan menepuk bahuku dengan sayang,”Kamu sih, sekali – kali ngalah dong sama papa, jadi dia nggak akan penasaran nantangin kamu main catur terus”
Aku tergelak mendengarnya, lalu dengan santai kubantingkan tubuhku ke ranjang Upit yang begitu feminim, bermotifkan strawberry warna pink. Segera Upit menyusulku duduk di pinggir ranjang, sambil menggerutu bahwa spreinya baru diganti, bahwa ranjangnya pasti kotor karena aku habis dari luar naik – naik pohon. Aku hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai angin lewat. Upit memang selalu begitu, cerewet, cemberut, dan tukang ngomel, tetapi dibalik itu, dia penuh kasih sayang luar biasa kepadaku.
Kami sudah berteman sejak lama, kalau boleh dibilang sejak lahir. Kami hanya selisih satu hari. Upit yang lebih tua satu hari dariku dan mungkin itu juga yang membuatnya menobatkan diri sebagai kakak angkat perempuanku. Mungkin juga karena aku sebagai laki – laki memang sejak kecil selalu lemah dan sakit – sakitan. Aku tidak seberuntung Upit yang lahir sehat, aku terlahir dengan katup jantung yang tidak normal, sehingga kerjaanku hanyalah keluar masuk rumah sakit. Aku tidak bisa sekolah seperti anak – anak biasa, aku sekolah di rumah karena tubuhku sangat lemah. Tetapi Upit tidak pernah meninggalkanku karenanya, sejak kecil, setiap pulang sekolah dia selalu mengunjungiku ke rumah, berbagi cerita. Kami sudah seperti kakak adik yang saling menyayangi. Dan itu berlangsung bahkan sampai Upit sudah hampir lulus kuliah di jurusan hukum yang sangat disukainya, sedangkan aku semakin sering menghabiskan waktuku di rumah sakit. Dalam setahun mungkin 7 bulannya aku habiskan di rumah sakit, dan hebatnya Upit tetap selalu menyempatkan diri mampir di rumah sakit ketika aku dirawat.
Aku sebenarnya pumya seorang kakak laki – laki yang tiga tahun lebih tua dariku. Dulu dimasa kecil kami lumayan akrab. Kak Bagas, aku, dan Upit selalu bermain bersama – sama. Sebenarnya aku dan Upit yang bermain bersama dan Kak Bagas yang bertugas menjaga kami. Tetapi bagaimanapun juga kami sangat akrab, seperti tiga kakak beradik yang saling menyayangi.
“Kemarin kan kamu masih di rumah sakit toh Mario, kok tiba – tiba kamu nongol di sini, kapan kamu diperbolehkan pulang dari rumah sakit?Kok aku nggak liat mobil Om Marlon ya?”, Upit melongokkan wajahnya ke seberang jendela, ke arah rumahku berusaha mencari penampakan mobil papaku, dan diluar sudah gelap jadi yang tampak diluar hanya kegelapan pekat.
Aku mengangkat bahu, “Kamu tidur kali pas aku pulang”. Sambil terkekeh Upit melemparkan bantal ke mukaku, “Sembarangan. Aku dari tadi siang berkutat di dapur sama mama, nyiapin makanan buat buka puasa tau!”, suara Upit tiba – tiba berubah lembut. “Gimana hasil diagnosa dokter, Mario?,kemarin Kak Bagas cerita kalau kamu harus operasi katup jantung yang kedua kalinya…tapi katanya kamu nolak”
Aku memalingkan muka, menghindari tatapan Upit,”Bisa nggak kita nggak ngomongin itu?Aku capek”. “Tapi kamu harus berani Mario”, Upit tetap melanjutkan tidak peduli dengan tubuhku yang menegang kaku,”Operasi itu kemungkinan suksesnya besar, kamu mungkin akan bisa sehat seperti sedia kala”. “Kemungkinan kesuksesan operasi itu Cuma 50:50”, sambarku getir, kutatap Upit tajam, berusaha menahan kegetiran,”Kamu nggak tahu betapa takutnya aku kalau harus mati di atas meja operasi….”, aku nggak mau mati sebelum aku menungkapkan betapa aku mencintaimu Pit, desahku dalam hati. Tentu saja hanya dalam hati, aku sampai sekarang tidak punya keberanian untuk mengungkapkan persaan cintaku secara terang – terangan kepada sahabatku ini. Ya, sudah sejak lama , mungkin sejak dulu aku mencintai Upit. Perasaan itu semakin berkembang seiring dengan bertambah lamanya kebersamaanku dengan Upit, dan kadang memendam cinta seperti ini terasa begitu menyakitkan.
Dan entah kenapa malam ini aku bersemangat. Bersemangat untuk menyatakan cintaku kepada Upit. Entah nanti aku akan diterima atau tidak, aku ingin mengungkapkan perasaanku. Di dalam kantongku ada sebuah cincin mungil dengan ukiran bunga. Cincin yang indah, seindah perempuan di depanku ini. Kalau Upit mau menerima cintaku, aku ingin memberikan cincin itu kepadanya, dan mungkin aku berani untuk melakukan operasi katup jantung itu, demi Upit.
“Tapi aku ingin kamu sehat Mario”, mata Upit berkaca – kaca dan menatapku penuh perasaan, membuat lidahku kelu. “Pit…”, suaraku bergetar ragu,”Pit…kamu sayang enggak sama aku?” Upit mengernyitkan kening lalu tersenyum, “Ya tentulah aku sayang sama kamu, kita ini udah lebih dari sodara, kamu itu sangat berarti buatku Mario…” “Bukan begiu..maksudku..”
“Lagipula sebentar lagi kan kita menjadi saudara…”, gumam Upit penuh rahasia.Pengakuan cinta yang tadi sudah diujung lidah terhenti seketika, aku menatap Upit bingung.
“Maksudnya….?” Pipi Upit mulai bersemu merah ketika menatapku, lau dia tersenyum malu – malu, “Sebenarnya kami ingin merahasiakannya dulu Mario…tapi…kamu kan bukan orang lain, jadi menurutku dia juga nggak akan marah kalau aku memberitahumu lebih cepat”, Upit berdehem pelan, membuatku merasa gugup. “Maksudnya…?”, rasanya aku seperti kaset rusak yang mengulang – ngulang kata yang sama. Upit memegang pipinya yang memerah, “Kak Bagas melamarku Mario..rencananya begitu aku menyelesaikan skripsi, Kak Bagas mau melamarku ke Papa…”
Senyum bahagia Upit bagaikan sembilu yang menusuk jantungku. Sejenak aku terpana dan tidak bisa berkata – kata. “Maksudmu,,,kamu dan Kak Bagas….?”, aku berusaha mencerna kenyataan ,ini, tetapi entah kenapa batinku menolak tak mau menerima, “Kapan…?Bagaimana….?”, tanpa sengaja jemariku meremas cincin mungil di sakuku, sampai tulang jemariku terasa sakit.
“Selama ini kami merahasiakannya ke kamu Mario, aku yang meminta kak Bagas melakukannya, habis aku malu dan takut kamu nanti menertawakanku habis – habisan karena akhirnya pacaran sama Kak Bagas…tapi Mario… sebenarnya sejak kecil aku sudah jatuh cinta kepada Kak Baga, dan sangat mengidolakannya, tak disangka Kak Bagas juga menyimpan perasaan yang sama”, mata Upit bersinar, mata perempuan yang sedang dimabuk cinta.
Saat aku masih terpana membisu, Upit menyentuh lenganku dan meremasnya lembut, “Aku senang Mario, kalau aku nanti menikah dengan Kak Bagas , kita benar – benar bisa menjadi satu keluarga, kamu tahu aku itu senang sekali menjadi kakakmu, kamu pasti juga senang kan kalau kita benar –benar menjadi kakak adik?’. Lidahku kelu dan hatiku hancur, tetapi tidak ada yang bisa aku katakan. Aku mematung membisu dalam patah hati yang luar biasa dalam. Upit mengernyitkan keningnya menatapku, “Mario? Kok kamu jadi pucat sekali?” Jemarinya menyentuh lenganku lagi, “Astaga kamu dingin banget!!!!Harusnya pulang dari rumah sakit kamu langsung istirahat bukannya kemari, pake manjat – manjat pohon segala….!”, dengan panik Upit mengambil selimut dan menyelimutiku,”Sebentar aku akan telepon Kak Bagas untuk menjemputmu…”
Baru saja Upit hendak mengangkat ponsel, pintunya diketuk dengan keras. Lama – lama ketukannya semakin keras dan mendesak, “Siapa sih malam – malam begini?”, Upit menggerutu dan melangkah ke pintu lalu membukanya. Kulihat Kak Bagas berdiri di sana, wajahnya tampak pucat dan kuyu, rambutnya berantakan, “Lho, Kak Bagas? Kebetulan sekali, aku baru saja mau menelepon Kak Bagas….”
“Pit, kita harus ke rumah sakit….” Suara Kak Bagas tampak serak penuh kepedihan. Kudengar Upit tersentak kebingungan, “Siapa yang sakit Kak?” Sedikit kulihat Kak Bagas menatap Upit bingung, lalu menggelengkan kepalanya, air mata menetes pelan dari matanya, mengaliri pipinya, “Mario Pit, satu jam yang lalu dia mendapat serangan , dan jatuh koma, dokter berusaha menyadarkannya. Tetapi dia tidak bangun lagi. Dia meninggal Pit….”
“Tidak mungkin Kak!!! Barusan saja aku dengan Marioo….”, kulihat Upit menoleh ke ranjang , menatapku… Tapi saat itulah kusadari bahwa yang dilihat Upit hanyalah ranjang kosong. Tak ada siapa – siapa disitu. Kulihat Upit semakin pucat dan kemudian jatuh pingsan dipelukan Kak Bagas yang segera menangkapnya. Suara – suara gaduh kemudian terdengar karena mama dan papa Upit menyusul ke atas. Sementara aku masih duduk di ranjang itu, menatap tanganku sendiri yang sekarang tembus pandang. Dihantam kenyataan bahwa bahkan sampai akhir hidupku, aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan yang telah ku pendam sekian lama kepada perempuan yang kucintai.
Anganku melayang ke kotak kecil berisi cincin di laci kamarku yang tersimpan dengan baik di sana. Cincin itu tidak akan pernah diserahkan….tidak akan pernah tersampaikan. Aku memejamkan mata dengan setetes air mata bergulir, sebelum semuanya menjadi kabur dan lenyap.
THE END